Senin, 01 Februari 2016

CERPEN



KAU BAWA CINTAKU BERSAMA MU

Bagai petir yang menyambar, harusku dengar pernyataan yang paling sulit kuterima. Delia telah resmi berpacaran dengan Yudha. Oh Delia tidakkah kamu tahu perasaanku kepadamu, aku begitu mencintaimu. Namun sekarang tak ada yang dapat aku lakukan lagi, mungkin memang kamu tidak tercipta untukku, biarlah kusimpan rasa ini dalam hatiku. Akan aku simpan namamu sebagai orang yang pernah aku cintai, mungkin memang persahabatan yang terbaik untuk kita.
“ Bal kamu kenapa kok malah bengong, kasih tanggapan apa gitu. Kamu orang pertama yang tahu tentang aku yang sudah resmi pacaran sama Yudha”.
“ Hmm.. iya aku turut senang akhirnya kamu mendapatkan cinta yang selama ini kamu inginkan”.
“ Iya dong, dia adalah cowok yang selama ini aku dambakan menjadi pacarku”.
“ Semoga kalian langgeng ya”.
                                                            ****
Hari-hariku terasa lebih indah karena saat ini ada Yudha yang selalu menemaniku dengan setia. Setiap hari aku berangkat bersama Yudha. Yah, walaupun harus dengan sebuah motor vespa tapi bagiku itu adalah kereta kuda yang kusirnya adalah pangeran yang sangat tampan. Malam ini Yudha berniat mengajakku jalan-jalan mengelilingi kota Bandung. Semoga kencan kita kali ini berjalan dengan baik. Pukul 19.00 Yudha menjemputku, kita jalan-jalan dengan menggunakan motornya. Hp ku pun berdering.
“ Pai, yai sudah di depan rumah. Ayo kita berangkat”. Pai adalah panggilan Yudha terhadapku katanya sih itu berasal dari kata  fairy dia menganggap aku adalah peri.
“ Iya yai, aku sudah siap kok. Kamu langsung masuk saja, kebetulan mama dan papa sedang tidak ada di rumah”.
“ Tidaklah aku tunggu diluar gerbang saja, kesinilah pai”.
Kitapun beranjak dari rumahku. Setelah sampai di taman kota dia mengajakku duduk disebuah kursi taman.
“ pai...”
“ iya, ada apa yai?”
“ apakah kamu mencintaiku? Mengapa kamu mau menjadi pacarku dengan semua kekuranganku”.
“ kenapa kau bertanya begitu? Apakah kamu tidak percaya dengan kesungguhanku? Aku begitu mencintaimu, rasa itulah yan membuatku saat ini berada di sampingmu. Aku tak pernah memikirkan perbedaan kita, karena bagiku semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Justru itu, aku ingin kita dapat saling melengkapi bukan malah saling menyalahkan.
“ Oh sayang, tidakkah kau tau betapa kerasnya hidupku. Kau tidak akan mampu, bahkan kau akan terluka jika tetap bersamaku”. Gumam Yudha dalam hati
“ Iya sudah, sepertinya ini sudah cukup malam ayo kita pulang”.
“ Secepat itukah kebersamaan kita malam ini”.
“ Maaf hanya ini yang dapat aku lakukan untukmu, jika suatu saat nanti kita sudah tidak bersama aku harap kamu bisa mendapatkan penggantiku yang jauh lebih baik”.
“ Apa maksudmu Yudha? Kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti itu?
“ Tidak ada apa-apa. Ayolah aku akan mengantarkanmu pulang”.
Kencan malam ini sungguh berakhir dingin. Tak ada kata perpisahan yang terucap dari bibir, yang ada hanya kebingungan yang menyergap pikiran Delia dengan ucapan-ucapan Yudha selama mereka berdua tadi.
                                                            ****
Di sudut taman yang terhiaskan bunga-bunga dengan pesonanya membuat semua orang betah berlama-lama disana. Namun tidak dengan Delia, bukan karena kecantikan pemandangan yang membuatnya tetap berada di sana hingga hampir 30 menit dia duduk mematung. Bergelayut dengan pikirannya memikirkan kemana gerangan pangeran pujaan hatinya yang sudah 1 minggu ini tak ada kabar berita.
“ Oh kekasihku dimana dirimu sebenarnya mengapa kau menghilang secara tiba-tiba dan tidak memberitahukanku?”
“ Delia apa yang kamu lakukan disini?” tanya Iqbal yang datang tiba-tiba.
“ Huuhh, kamu membuatku terkejut aku kira siapa. Aku lagi memikirkan sesuatu Bal”.
“ Apa itu? Bolehkah aku mengetahui pikiran apa yang telah mengusik sahabatku ini”.
“ Begini Bal, sudah seminggu ini aku tidak pernah mendengar kabar Yudha. Dia menghilang ntah kemana, aku sms gak pernah dibales, aku telepon juga gak pernah diangkat. Oh kemana dia sebenarnya? Mengapa dia menghilang begitu saja?”
“ apakah kamu sudah mencoba menghubungi temannya atau siapa gitu yang kamu kenal?”
“ Sudah. Aku sudah menghubungi Bayu, Rian dan bahkan setiap hari aku sudah ke kelasnya. Namun tak ada satupun yang mengetahui keberadaan Yudha. Mereka hanya mengatakan bahwa sudah seminggu ini Yudha memang tidak hadir ke sekolah.
“ Hmm.. kemana sih Yudha itu, udah kayak jin aja kadang muncul kadang ngilang bikin repot orang”.
“ husstt... kamu ini daripada komentar mending bantu aku mencari tahu keberadaan dia”.
                                                                        ****
Dear Diary

Diary ku ingin cerita kepadamu, tentangnya yang singgah dihatiku,semenjak itu hidupku jadi bahagia. Karena dia selalu ada didekatku. Namun kini dia menghilang dan tak tahu ntah kemana. Diary ku merindukannya, oh pujaanku engkau ada dimana.sudah hampir 2 bulan kau menghilang ntah kemana, diam dan pergi tanpa sebab yang jelas. Apakah kamu sudah tidak memikirkan aku, cinta kita? Kita baru berpacaran selama 5 bulan namun sekarang kamu membawa cinta kita ntah kemana arah tujuannya. Apakah kamu masih mencintaiku? Apakah kamu masih memikirkanku? Dan apakah kamu masih menganggapku pacarmu? Ntahlah tak ada satupun yang dapat menjawab pertanyaanku. Semua pertanyaan, harapan, menggantung terbawa hembusan angin malam. Tak ada lagi bintang yang terlihat oleh kedua bola mataku. Semua itu karena dia, dia telah membuat hariku penuh kegelapan.

” Oh Delia, begitu tersiksakah kamu dengan kepergian Yudha. Sungguh perasaan yang kamu ungkapkan dalam diarymu ini membuatku begitu tersakiti. Orang yang sangat aku cintai harus menangis karena ditinggal laki-laki yang tak bertanggungjawab seperti dia”. Guman Iqbal
Begitu asyiknya Delia dengan lamunannya memikirkan Yudha membuatnya tak sadar bahwa sejak tadi Iqbal sudah berada disampingnya, bahkan membaca isi diarynya.
“ Delia, apa yang kau lakukan disini?” tanya Iqbal
“ Iqbal, sejak kapan kau duduk disampingku?
“ Oh Delia begitu tersiksakah kamu atas kepergian Yudha? Apakah kamu amat sangat merindukannya. Sampai-sampai aku yang sudah sejak tadi duduk disinipun tidak ketahui.
“ Maaf Bal, bukannya aku tidak memperhatikanmu. Namun sungguh begitu banyak beban yang harus aku pikirkan saat ini. Aku bingung harus mencari Yudha kemana lagi, aku juga bingung apa kesalahan yang aku perbuat sehingga dia pergi tanpa memberitahukanku.
“ Kamu tahu dia pergi kemana? Aku dengar dia sudah keluar dari sekolah dan ntah pergi kemana.
“ Benarkah yang kau ucapkan itu? Mengapa dia keluar? Dan dimana dia sekarang?

                                                                        ****

Di pantai Purwasari dengan rona keindahannya. Di atas pasir yang terhampar luas, Yudha duduk sambil merangkul kedua lututnya. Dia bersandar pada sebatang pohon kelapa. Hembusan angin terdengar menderu, burung camar sudah tidak terlihat lagi karena enggan untuk menggoda langi biru. Yudha termenung hanyut di dalam diamnya. “ Kenapa aku mencintainya? Kenapa bukan orang lain saja?. Keadaan kami sangat bernbeda. Kehidupanku yang keras tidak akan cocok dengannya. Aku yang setiap hari harus memutar otak untuk dapat hidup jauh berbeda dengannya yang hanya denagn sekali berucap seluruh dunia bisa menjadi miliknya. Ya Allah aku percaya bahwa perasaan cinta adalah anugerah darimu. Tapi mengapa kau harus menumbuhkan perasaan itu antara aku dan Delia. Dia begitu lembut, baik sedangkan aku. Kehidupanku yang keras tidaklah cocok dengannya. Aku tidak mau menyakiti perasaannya jika tetap bersamaku. Ya Allah aku tahu keputusanku utuk meninggalkannya tanpa memberitahu dia tidak sepenuhnya dapat dibenarkan, namun aku tidak kuasa untuk memberitahu dia aku takut di akan merasa sedih karena kepergianku ini. Delia kekasihku, maafkan aku yang pergi meninggalkanmu. Akan sangat berat bagiku untuk melupakanmu. Sungguh namamu sudah terukir dalam hatiku. Aku berjanji pada diriku jika suatu saat nanti aku sudah menjadi orang sukses, sudah tidak hidup dalam kegetiran aku akan kembali merajut cinta kita bersama.
                                                            ****
Delia tengah termenung di taman sekolah. Bibirnya sedikit memucat, mata bulatnya kelihatan cekung, tubuhnya terlihat semakin kurus. Kepergian Yudha yang begitu medadak membuatnya sangat terpukul. Di lain waktu Delia mendatangi Plazza Mall tempat dimana dia pernah bertemu Yudha pertama kali, bukan hanya sekali dua kali, namun tak pernah Ia temukan sosok Yudha. Dia terus mencarinya ditempat lain, Plazza Mall, tempat latihan sepak bola, dan kos-kosan tempat Yudha pun sudah Ia kunjungi, namun sama saja Yudha tidak pernah ada. Sudah 2 bulan ini Delia mencari keberadaan Yudha denganIqbal yang selalu setia menemaninya. Hanya untuk bertemu dan menanyakan apa yang terjadi pada Yudha sehingga dia seperti ini tak pernah dapat Ia lakukan.
“ Bal, aku benar-benar sudah lelah. Aku bingung harus mencari kemana lagi. Sekarang aku serahkan semua pada Allah. Jika memang Yudha jodohku suatu saat nanti kita pasti akan bertemu. Hubunganku dengannya ntahlah akupun tidak tahu bagaimana nasibnya”.
“ Jika memang itu keputusanmu aku menurut saja Del, aku juga tahu bagaimana perjuanganmu mencari dia selama 2 bulan ini. Jika suatu saat nanti Allah memberi kalian kesempatan aku harap kalian dapat bertemu kembali. Ya sudah, lebih baik sekarang kita pulang dan istirahatlah.
                                                            ****
Dipenghujung malam, Delia masih lekat menatap rembulan yang terhalang awan. Segurat kehitaman membayangi sinar teduhnya. Wanita muda itu duduk termenung diberanda rumahnya. Selama beberapa hari ini dia menghabiskan waktunya untuk mencari cintanya yang ntah menghilang kemana. Ingatannya menggapai kenangan indah bersama Yudha semakin jauh meninggalkannya, terbawa hembusan angin malam. Mengapa kau lakukan ini padaku. Kau menggantungkan hubungan kita. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu kembali. Ya Allah semua kupasrahkan padamu, jika memang akulah tulang rusuknya maka suatu saat nanti aku akan kembali pada tubuhnya.
“ Nak, apa yang kamu lakukan disini? Ini sudah malam masuklah”.
“ Aku hanya ingin memcari angin Ma”.
“ Nak, mama ingin bicara”.
“ Bicara apa? Bicaralah ma”.
“ Papa harus pindah tugas ke Bali, rencananya besok minggu kita akan berangkat. Kami berencana untuk pindah kesana karena pekerjaan papamu cukup lama, bagaimana menurutmu”.
“ Ma, Delia menurut saja apa yang Mama dan Papa mau. Delia yakin kalian akan melakukan yang terbaik untuk anakmu ini”.
“ Baiklah kalau kamu tidak keberatan, besok minggu kita akan berangkat ke Bali. Ya sudah, ini sudah malam sebaiknya kamu istirahat”.
“ Baik Ma, Delia ke Kamar dulu ya”.
                                                            ****
Pagi yang cerah disertai kicauan burung yang sepertinya sudah siap mengantar kepergian Delia bersama keluarga. Tak lupa Iqbalpun ikut mengiringi kepergian mereka. Suara hiruk pikuk di airport menambah kental kepergian Delia yang tinggal menghitung menit.
“ Del, kamu hati-hati ya disana. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai. Oya, aku punya sesuatu untukmu”. Iqbal memberikan sebuah kotak yang tidak begitu besar.
“ Terimakasih Bal, maaf jika aku punya salah sama kamu selama kita berteman. Aku berangkat dulu ya”.
Delia tidak langsung membuka kado yang diberikan oleh Iqbal. Tak ada rasa penasaran yang terbesit dipikiran Delia tentang isi dari kado yang diberikan Iqbal. Sepanjang perjalanan Delia hanya termenung, Ia masih memikirkan keberadaan Yudha namun berkali-kali Ia buru-buru menepis pikirannya itu. Ia sudah bertekad untuk melupakan hubungan dia dan Yudha yang sekarang ntah bagaimana nasibnya. Ia ingin membuka lembaran baru ditempat tinggalnya yang baru. Sesampainya dirumah Delia langsung masuk ke kamar dan kemudian Ia membuka kado yang diberikan sahabatnya itu.
Untuk sahabatku yang paling cantik: Delia Anisa Putri
Hey, Delia bagaimana perjalananmu menuju rumahmu yang baru pasti sangat melelahkan bukan. Jangan pernah kamu melupakan sahabatmu yang paling ganteng ini yaa Iqbal Nata Yudha hehehe.. semoga kamu betah ya dirumah barumu dan bisa mendapatkan teman-teman yang lebih baik, tapi jangan lupain aku lo. Del, dalam surat ini aku menyelipkan sebuah pernyataan yang mungkin tidak kamu tahu bahkan tidak pernah kamu bayangkan dapat aku ucapkan. Namun inilah kenyataannya, aku sudah mencoba menepisnya namun sulit untuk aku lakukan. Rasa cintaku padamu begitu besar, namun aku tahu tidak seharusnya aku menyimpan perasaan ini. Aku bicara seperti ini bukan untuk mengharap kamu membalas cintaku, karena aku tahu kau begitu mencintai Yudha dan tidak akan ada tempat dihatimu untukku. Aku paham semua itu, aku hanya ingin kamu tahu perasaanku yang sebenarnya. Del, aku harap kamu tidak usah memikirkan pernyataanku barusan. Oya, aku disini akan tetap mencarikan Yudha untukumu. Tenang aku akan tetap menjadi sahabat yang terbaik untukmu.
                                                                                    Dari sahabatmu Iqbal Nata Yudha
“ Oh Iqbal, sungguh aku tidak bisa mempercayai ini semua. Kamu.. kamu.. mencintaiku. Delia kenapa kamu begitu bodoh, kamu telah menyakiti sahabatmu sendiri. Oh Iqbal kenapa kamu begitu bodoh, kenapa kamu mencintaiku, aku bukanlah wanita yang pantas kau cintai. Kamu begitu baik sedangkan aku selalu menyakitimu. Kalu saja kamu hadir lebih awal dari hubunganku bersama Yudha mungkin kaulah yang aku pilih menjadi kekasihku karena cintamu yang begitu besar padaku.
                                                                        ****
“ Yudha, benarkah itu kamu? Kemana saja kemu selama ini? Tidakkah kamu tahu betapa tersiksanay Delia atas kepergianmu yang mendadak”.
“ Iqbal, iya aku tahu maaf mungkin memang aku tidak pantas bersama Delia, aku hanya bisa menyakitinya saja”.
“ Penyesalanmu sudah terlambat, Delia sekarang sudah pidah ke Bali dengan membawa luka hati yang akan sulit terobati. Kalau saja aku tahu kamu akan menyakitinya tidak akan aku biarkan dia pacaran denganmu”.
“ Maafkan aku Bal, sungguh aku menyesal”. Yudha begitu menyesal dengan perbuatannya namun semua sudah terlambat. Delia sudah pergi meninggalkannya.
                                                            THE END
Biodata Penulis
Nama                           : Shinta Purnama Sari
Nama Pena                  : Shinta Eweiss Inihara
Alamat                                    : Mulya Asri


Tidak ada komentar:

Posting Komentar