KAU BAWA CINTAKU BERSAMA MU
Bagai
petir yang menyambar, harusku dengar pernyataan yang paling sulit kuterima.
Delia telah resmi berpacaran dengan Yudha. Oh Delia tidakkah kamu tahu
perasaanku kepadamu, aku begitu mencintaimu. Namun sekarang tak ada yang dapat
aku lakukan lagi, mungkin memang kamu tidak tercipta untukku, biarlah kusimpan
rasa ini dalam hatiku. Akan aku simpan namamu sebagai orang yang pernah aku
cintai, mungkin memang persahabatan yang terbaik untuk kita.
“
Bal kamu kenapa kok malah bengong, kasih tanggapan apa gitu. Kamu orang pertama
yang tahu tentang aku yang sudah resmi pacaran sama Yudha”.
“
Hmm.. iya aku turut senang akhirnya kamu mendapatkan cinta yang selama ini kamu
inginkan”.
“
Iya dong, dia adalah cowok yang selama ini aku dambakan menjadi pacarku”.
“
Semoga kalian langgeng ya”.
****
Hari-hariku
terasa lebih indah karena saat ini ada Yudha yang selalu menemaniku dengan
setia. Setiap hari aku berangkat bersama Yudha. Yah, walaupun harus dengan
sebuah motor vespa tapi bagiku itu adalah kereta kuda yang kusirnya adalah
pangeran yang sangat tampan. Malam ini Yudha berniat mengajakku jalan-jalan
mengelilingi kota Bandung. Semoga kencan kita kali ini berjalan dengan baik.
Pukul 19.00 Yudha menjemputku, kita jalan-jalan dengan menggunakan motornya. Hp ku pun berdering.
“
Pai, yai sudah di depan rumah. Ayo kita berangkat”. Pai adalah panggilan Yudha
terhadapku katanya sih itu berasal dari kata
fairy dia menganggap aku
adalah peri.
“
Iya yai, aku sudah siap kok. Kamu langsung masuk saja, kebetulan mama dan papa
sedang tidak ada di rumah”.
“
Tidaklah aku tunggu diluar gerbang saja, kesinilah pai”.
Kitapun
beranjak dari rumahku. Setelah sampai di taman kota dia mengajakku duduk
disebuah kursi taman.
“
pai...”
“
iya, ada apa yai?”
“
apakah kamu mencintaiku? Mengapa kamu mau menjadi pacarku dengan semua
kekuranganku”.
“
kenapa kau bertanya begitu? Apakah kamu tidak percaya dengan kesungguhanku? Aku
begitu mencintaimu, rasa itulah yan membuatku saat ini berada di sampingmu. Aku
tak pernah memikirkan perbedaan kita, karena bagiku semua orang memiliki
kekurangan dan kelebihan masing-masing. Justru itu, aku ingin kita dapat saling
melengkapi bukan malah saling menyalahkan.
“
Oh sayang, tidakkah kau tau betapa kerasnya hidupku. Kau tidak akan mampu,
bahkan kau akan terluka jika tetap bersamaku”. Gumam Yudha dalam hati
“
Iya sudah, sepertinya ini sudah cukup malam ayo kita pulang”.
“
Secepat itukah kebersamaan kita malam ini”.
“
Maaf hanya ini yang dapat aku lakukan untukmu, jika suatu saat nanti kita sudah
tidak bersama aku harap kamu bisa mendapatkan penggantiku yang jauh lebih
baik”.
“
Apa maksudmu Yudha? Kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti itu?
“
Tidak ada apa-apa. Ayolah aku akan mengantarkanmu pulang”.
Kencan
malam ini sungguh berakhir dingin. Tak ada kata perpisahan yang terucap dari
bibir, yang ada hanya kebingungan yang menyergap pikiran Delia dengan
ucapan-ucapan Yudha selama mereka berdua tadi.
****
Di
sudut taman yang terhiaskan bunga-bunga dengan pesonanya membuat semua orang
betah berlama-lama disana. Namun tidak dengan Delia, bukan karena kecantikan
pemandangan yang membuatnya tetap berada di sana hingga hampir 30 menit dia duduk
mematung. Bergelayut dengan pikirannya memikirkan kemana gerangan pangeran
pujaan hatinya yang sudah 1 minggu ini tak ada kabar berita.
“
Oh kekasihku dimana dirimu sebenarnya mengapa kau menghilang secara tiba-tiba
dan tidak memberitahukanku?”
“
Delia apa yang kamu lakukan disini?” tanya Iqbal yang datang tiba-tiba.
“
Huuhh, kamu membuatku terkejut aku kira siapa. Aku lagi memikirkan sesuatu
Bal”.
“
Apa itu? Bolehkah aku mengetahui pikiran apa yang telah mengusik sahabatku
ini”.
“
Begini Bal, sudah seminggu ini aku tidak pernah mendengar kabar Yudha. Dia
menghilang ntah kemana, aku sms gak pernah dibales, aku telepon juga gak pernah
diangkat. Oh kemana dia sebenarnya? Mengapa dia menghilang begitu saja?”
“
apakah kamu sudah mencoba menghubungi temannya atau siapa gitu yang kamu
kenal?”
“
Sudah. Aku sudah menghubungi Bayu, Rian dan bahkan setiap hari aku sudah ke
kelasnya. Namun tak ada satupun yang mengetahui keberadaan Yudha. Mereka hanya
mengatakan bahwa sudah seminggu ini Yudha memang tidak hadir ke sekolah.
“
Hmm.. kemana sih Yudha itu, udah kayak jin aja kadang muncul kadang ngilang
bikin repot orang”.
“
husstt... kamu ini daripada komentar mending bantu aku mencari tahu keberadaan
dia”.
****
Dear Diary
Diary ku ingin cerita kepadamu, tentangnya yang
singgah dihatiku,semenjak itu hidupku jadi bahagia. Karena dia selalu ada
didekatku. Namun kini dia menghilang dan tak tahu ntah kemana. Diary ku
merindukannya, oh pujaanku engkau ada dimana.sudah hampir 2 bulan kau
menghilang ntah kemana, diam dan pergi tanpa sebab yang jelas. Apakah kamu
sudah tidak memikirkan aku, cinta kita? Kita baru berpacaran selama 5 bulan
namun sekarang kamu membawa cinta kita ntah kemana arah tujuannya. Apakah kamu
masih mencintaiku? Apakah kamu masih memikirkanku? Dan apakah kamu masih
menganggapku pacarmu? Ntahlah tak ada satupun yang dapat menjawab pertanyaanku.
Semua pertanyaan, harapan, menggantung terbawa hembusan angin malam. Tak ada
lagi bintang yang terlihat oleh kedua bola mataku. Semua itu karena dia, dia
telah membuat hariku penuh kegelapan.
”
Oh Delia, begitu tersiksakah kamu dengan kepergian Yudha. Sungguh perasaan yang
kamu ungkapkan dalam diarymu ini membuatku begitu tersakiti. Orang yang sangat
aku cintai harus menangis karena ditinggal laki-laki yang tak bertanggungjawab
seperti dia”. Guman Iqbal
Begitu
asyiknya Delia dengan lamunannya memikirkan Yudha membuatnya tak sadar bahwa
sejak tadi Iqbal sudah berada disampingnya, bahkan membaca isi diarynya.
“
Delia, apa yang kau lakukan disini?” tanya Iqbal
“
Iqbal, sejak kapan kau duduk disampingku?
“
Oh Delia begitu tersiksakah kamu atas kepergian Yudha? Apakah kamu amat sangat
merindukannya. Sampai-sampai aku yang sudah sejak tadi duduk disinipun tidak
ketahui.
“
Maaf Bal, bukannya aku tidak memperhatikanmu. Namun sungguh begitu banyak beban
yang harus aku pikirkan saat ini. Aku bingung harus mencari Yudha kemana lagi,
aku juga bingung apa kesalahan yang aku perbuat sehingga dia pergi tanpa
memberitahukanku.
“
Kamu tahu dia pergi kemana? Aku dengar dia sudah keluar dari sekolah dan ntah
pergi kemana.
“
Benarkah yang kau ucapkan itu? Mengapa dia keluar? Dan dimana dia sekarang?
****
Di
pantai Purwasari dengan rona keindahannya. Di atas pasir yang terhampar luas,
Yudha duduk sambil merangkul kedua lututnya. Dia bersandar pada sebatang pohon
kelapa. Hembusan angin terdengar menderu, burung camar sudah tidak terlihat
lagi karena enggan untuk menggoda langi biru. Yudha termenung hanyut di dalam
diamnya. “ Kenapa aku mencintainya? Kenapa bukan orang lain saja?. Keadaan kami
sangat bernbeda. Kehidupanku yang keras tidak akan cocok dengannya. Aku yang
setiap hari harus memutar otak untuk dapat hidup jauh berbeda dengannya yang
hanya denagn sekali berucap seluruh dunia bisa menjadi miliknya. Ya Allah aku
percaya bahwa perasaan cinta adalah anugerah darimu. Tapi mengapa kau harus
menumbuhkan perasaan itu antara aku dan Delia. Dia begitu lembut, baik
sedangkan aku. Kehidupanku yang keras tidaklah cocok dengannya. Aku tidak mau
menyakiti perasaannya jika tetap bersamaku. Ya Allah aku tahu keputusanku utuk
meninggalkannya tanpa memberitahu dia tidak sepenuhnya dapat dibenarkan, namun
aku tidak kuasa untuk memberitahu dia aku takut di akan merasa sedih karena
kepergianku ini. Delia kekasihku, maafkan aku yang pergi meninggalkanmu. Akan
sangat berat bagiku untuk melupakanmu. Sungguh namamu sudah terukir dalam
hatiku. Aku berjanji pada diriku jika suatu saat nanti aku sudah menjadi orang
sukses, sudah tidak hidup dalam kegetiran aku akan kembali merajut cinta kita
bersama.
****
Delia
tengah termenung di taman sekolah. Bibirnya sedikit memucat, mata bulatnya
kelihatan cekung, tubuhnya terlihat semakin kurus. Kepergian Yudha yang begitu
medadak membuatnya sangat terpukul. Di lain waktu Delia mendatangi Plazza Mall
tempat dimana dia pernah bertemu Yudha pertama kali, bukan hanya sekali dua
kali, namun tak pernah Ia temukan sosok Yudha. Dia terus mencarinya ditempat
lain, Plazza Mall, tempat latihan sepak bola, dan kos-kosan tempat Yudha pun
sudah Ia kunjungi, namun sama saja Yudha tidak pernah ada. Sudah 2 bulan ini
Delia mencari keberadaan Yudha denganIqbal yang selalu setia menemaninya. Hanya
untuk bertemu dan menanyakan apa yang terjadi pada Yudha sehingga dia seperti
ini tak pernah dapat Ia lakukan.
“
Bal, aku benar-benar sudah lelah. Aku bingung harus mencari kemana lagi.
Sekarang aku serahkan semua pada Allah. Jika memang Yudha jodohku suatu saat
nanti kita pasti akan bertemu. Hubunganku dengannya ntahlah akupun tidak tahu
bagaimana nasibnya”.
“
Jika memang itu keputusanmu aku menurut saja Del, aku juga tahu bagaimana
perjuanganmu mencari dia selama 2 bulan ini. Jika suatu saat nanti Allah memberi
kalian kesempatan aku harap kalian dapat bertemu kembali. Ya sudah, lebih baik
sekarang kita pulang dan istirahatlah.
****
Dipenghujung
malam, Delia masih lekat menatap rembulan yang terhalang awan. Segurat
kehitaman membayangi sinar teduhnya. Wanita muda itu duduk termenung diberanda
rumahnya. Selama beberapa hari ini dia menghabiskan waktunya untuk mencari
cintanya yang ntah menghilang kemana. Ingatannya menggapai kenangan indah
bersama Yudha semakin jauh meninggalkannya, terbawa hembusan angin malam.
Mengapa kau lakukan ini padaku. Kau menggantungkan hubungan kita. Apa yang
harus aku lakukan untuk membuatmu kembali. Ya Allah semua kupasrahkan padamu,
jika memang akulah tulang rusuknya maka suatu saat nanti aku akan kembali pada
tubuhnya.
“
Nak, apa yang kamu lakukan disini? Ini sudah malam masuklah”.
“
Aku hanya ingin memcari angin Ma”.
“
Nak, mama ingin bicara”.
“
Bicara apa? Bicaralah ma”.
“
Papa harus pindah tugas ke Bali, rencananya besok minggu kita akan berangkat.
Kami berencana untuk pindah kesana karena pekerjaan papamu cukup lama,
bagaimana menurutmu”.
“
Ma, Delia menurut saja apa yang Mama dan Papa mau. Delia yakin kalian akan
melakukan yang terbaik untuk anakmu ini”.
“
Baiklah kalau kamu tidak keberatan, besok minggu kita akan berangkat ke Bali.
Ya sudah, ini sudah malam sebaiknya kamu istirahat”.
“
Baik Ma, Delia ke Kamar dulu ya”.
****
Pagi
yang cerah disertai kicauan burung yang sepertinya sudah siap mengantar
kepergian Delia bersama keluarga. Tak lupa Iqbalpun ikut mengiringi kepergian
mereka. Suara hiruk pikuk di airport menambah kental kepergian Delia yang
tinggal menghitung menit.
“
Del, kamu hati-hati ya disana. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai. Oya,
aku punya sesuatu untukmu”. Iqbal memberikan sebuah kotak yang tidak begitu
besar.
“
Terimakasih Bal, maaf jika aku punya salah sama kamu selama kita berteman. Aku
berangkat dulu ya”.
Delia
tidak langsung membuka kado yang diberikan oleh Iqbal. Tak ada rasa penasaran
yang terbesit dipikiran Delia tentang isi dari kado yang diberikan Iqbal.
Sepanjang perjalanan Delia hanya termenung, Ia masih memikirkan keberadaan
Yudha namun berkali-kali Ia buru-buru menepis pikirannya itu. Ia sudah bertekad
untuk melupakan hubungan dia dan Yudha yang sekarang ntah bagaimana nasibnya. Ia
ingin membuka lembaran baru ditempat tinggalnya yang baru. Sesampainya dirumah
Delia langsung masuk ke kamar dan kemudian Ia membuka kado yang diberikan
sahabatnya itu.
Untuk sahabatku yang paling cantik: Delia Anisa
Putri
Hey, Delia bagaimana perjalananmu menuju rumahmu
yang baru pasti sangat melelahkan bukan. Jangan pernah kamu melupakan sahabatmu
yang paling ganteng ini yaa Iqbal Nata Yudha hehehe.. semoga kamu betah ya
dirumah barumu dan bisa mendapatkan teman-teman yang lebih baik, tapi jangan
lupain aku lo. Del, dalam surat ini aku menyelipkan sebuah pernyataan yang
mungkin tidak kamu tahu bahkan tidak pernah kamu bayangkan dapat aku ucapkan.
Namun inilah kenyataannya, aku sudah mencoba menepisnya namun sulit untuk aku
lakukan. Rasa cintaku padamu begitu besar, namun aku tahu tidak seharusnya aku
menyimpan perasaan ini. Aku bicara seperti ini bukan untuk mengharap kamu
membalas cintaku, karena aku tahu kau begitu mencintai Yudha dan tidak akan ada
tempat dihatimu untukku. Aku paham semua itu, aku hanya ingin kamu tahu
perasaanku yang sebenarnya. Del, aku harap kamu tidak usah memikirkan
pernyataanku barusan. Oya, aku disini akan tetap mencarikan Yudha untukumu.
Tenang aku akan tetap menjadi sahabat yang terbaik untukmu.
Dari
sahabatmu Iqbal Nata Yudha
“
Oh Iqbal, sungguh aku tidak bisa mempercayai ini semua. Kamu.. kamu..
mencintaiku. Delia kenapa kamu begitu bodoh, kamu telah menyakiti sahabatmu
sendiri. Oh Iqbal kenapa kamu begitu bodoh, kenapa kamu mencintaiku, aku
bukanlah wanita yang pantas kau cintai. Kamu begitu baik sedangkan aku selalu
menyakitimu. Kalu saja kamu hadir lebih awal dari hubunganku bersama Yudha
mungkin kaulah yang aku pilih menjadi kekasihku karena cintamu yang begitu
besar padaku.
****
“
Yudha, benarkah itu kamu? Kemana saja kemu selama ini? Tidakkah kamu tahu
betapa tersiksanay Delia atas kepergianmu yang mendadak”.
“
Iqbal, iya aku tahu maaf mungkin memang aku tidak pantas bersama Delia, aku
hanya bisa menyakitinya saja”.
“
Penyesalanmu sudah terlambat, Delia sekarang sudah pidah ke Bali dengan membawa
luka hati yang akan sulit terobati. Kalau saja aku tahu kamu akan menyakitinya
tidak akan aku biarkan dia pacaran denganmu”.
“
Maafkan aku Bal, sungguh aku menyesal”. Yudha begitu menyesal dengan
perbuatannya namun semua sudah terlambat. Delia sudah pergi meninggalkannya.
THE
END
Biodata
Penulis
Nama : Shinta Purnama Sari
Nama
Pena : Shinta Eweiss
Inihara
Alamat : Mulya Asri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar